Showing posts with label sejarah. Show all posts
Showing posts with label sejarah. Show all posts

SEJARAH PRA - BANK INDONESIA (BI)


SEJARAH PRA - BANK INDONESIA

Bagian Satu : Sejarah Perkembangan Bank Sentral di Nusantara
Jauh sebelum kedatangan bangsa barat, nusantara telah menjadi pusat perdagangan internasional. Sementara di daratan Eropa, merkantilisme telah berkembang menjadi revolusi industri dan menyebabkan pesatnya kegiatan dagang Eropa. Pada saat itulah muncul lembaga perbankan sederhana, seperti Bank van Leening di negeri Belanda. Sistem perbankan ini kemudian dibawa oleh bangsa barat yang mengekspansi nusantara pada waktu yang sama. VOC di Jawa pada 1746 mendirikan De Bank van Leening yang kemudian menjadi De Bank Courant en Bank van Leening pada 1752. Bank itu adalah bank pertama yang lahir di nusantara, cikal bakal dari dunia perbankan pada masa selanjutnya. Pada 24 Januari 1828, pemerintah Hindia Belanda mendirikan bank sirkulasi dengan nama De Javasche Bank (DJB). Selama berpuluh-puluh tahun bank tersebut beroperasi dan berkembang berdasarkan suatu oktroi dari penguasa Kerajaan Belanda, hingga akhirnya diundangkan DJB Wet 1922.
Masa pendudukan Jepang telah menghentikan kegiatan DJB dan perbankan Hindia Belanda untuk sementara waktu. Kemudian masa revolusi tiba, Hindia Belanda mengalami dualisme kekuasaan, antara Republik Indonesia (RI) dan Nederlandsche Indische Civil Administrative (NICA). Perbankan pun terbagi dua, DJB dan bank-bank Belanda di wilayah NICA sedangkan "Jajasan Poesat Bank Indonesia" dan Bank Negara Indonesia di wilayah RI. Konferensi Meja Bundar (KMB) 1949 mengakhiri konflik Indonesia dan Belanda, ditetapkan kemudian DJB sebagai bank sentral bagi Republik Indonesia Serikat (RIS). Status ini terus bertahan hingga masa kembalinya RI dalam negara kesatuan. Berikutnya sebagai bangsa dan negara yang berdaulat, RI menasionalisasi bank sentralnya. Maka sejak 1 Juli 1953 berubahlah DJB menjadi Bank Indonesia, bank sentral bagi Republik Indonesia.
Bagian Dua : Nusantara sampai dengan Awal Abad ke 19
Sebelum kedatangan bangsa barat, nusantara telah berkembang menjadi wilayah perdagangan internasional. Pada saat itu terdapat dua jalur perniagaan internasional yang digunakan oleh para pedagang, jalur darat dan jalur laut. Pada masa itu telah terdapat dua kerajaan utama di nusantara yang mempunyai andil besar dalam meramaikan perniagaan internasional, yaitu Sriwijaya dan Majapahit. Dalam maraknya perniagaan tersebut belum ada mata uang baku yang dijadikan nilai standar. Meskipun masyarakat telah mengenal mata uang dalam bentuk sederhana. 
Sementara itu pada abad ke-15 bangsa-bangsa Eropa sedang berupaya memperluas wilayah penjelajahannya di berbagai belahan dunia, termasuk Asia dan Nusantara. sejak jatuhnya Konstantinopel ke tangan kekuasaan Turki Usmani (1453), penjelajahan tersebut dipelopori oleh Spanyol dan Portugis yang kemudian diikuti oleh Belanda, Inggris, dan Perancis. Kegiatan penjelajahan tersebut telah mendorong munculnya paham merkantilisme di Eropa pada abad ke 16–17.
Selanjutnya pada akhir abad ke-18 revolusi industri telah berlangsung di Eropa. Kegiatan industri berkembang dan hasil produksi meningkat sehingga mendorong kegiatan ekspor ke wilayah Asia dan Amerika. Pesatnya perdagangan di Eropa memicu tumbuhnya lembaga pemberi jasa keuangan yang merupakan cikal-bakal lembaga perbankan modern, antara lain seperti Bank van Leening di Belanda. Kemudian secara bertahap bank-bank tertentu di wilayah Eropa seperti Bank of England (1773), Riskbank (1809), Bank of France (1800) berkembang menjadi bank sentral.
Munculnya Malaka sebagai emporium perdagangan telah menarik perhatian bangsa Portugis yang akhirnya pada 1511 berhasil menguasai Malaka. Mereka terus bergerak ke arah timur menuju sumber rempah-rempah di Maluku. Di sana Portugis menghadapi bangsa Spanyol yang datang melalui Filipina. Beberapa saat kemudian bangsa Belanda juga berusaha menguasai sumber-sumber komoditi perdagangan di Jawa dan Nusantara. Dengan mengibarkan bendera VOC yaitu perusahaan induk penghimpun perusahaan-perusahaan dagang Belanda, mereka mengukuhkan kekuasaanya di Batavia pada 1619. Untuk memperlancar dan mempermudah aktivitas perdagangan VOC di Nusantara, pada 1746 didirikan De Bank van Leening dan kemudian berubah menjadi De Bank Courant en Bank van Leening pada 1752. Bank van Leening merupakan bank pertama yang beroperasi di Nusantara. Pada akhir abad ke-18, VOC telah mengalami kemunduran, bahkan kebangkrutan. Maka kekuasaan VOC di nusantara diambil alih oleh pemerintah Kerajaan Belanda. Setelah masa pemerintahan Herman William Daendels dan Janssen, Hindia Timur akhirnya jatuh ke tangan Inggris.
Ratu Inggris mengutus Sir Thomas Stamford Raffles untuk memerintah Hindia Timur. Tetapi pemerintahan Raffles tidak bertahan lama, karena setelah usainya perang melawan Perancis (Napoleon) di Eropa, Inggris dan Belanda membuat kesepakatan bahwa semua wilayah Hindia Timur diserahkan kembali kepada Belanda. Sejak saat itu Hindia Timur disebut sebagai Hindia Belanda (Nederland Indie) dan diperintah oleh Komisaris Jenderal (1815–1819) yang terdiri dari Elout, Buyskes, dan van der Capellen. Pada periode inilah berbagai perbaikan ekonomi mulai dilaksanakan di Hindia Belanda. Hingga nantinya Du Bus menyiapkan beberapa kebijakan yang mempersiapkan didirikannya De Javasche Bank pada 1828.
Bagian Tiga : DJB berdasarkan Oktroi 1 s.d. 8
Gagasan pembentukan bank sirkulasi untuk Hindia Belanda dicetuskan menjelang keberangkatan Komisaris Jenderal Hindia Belanda Mr. C.T. Elout ke Hindia Belanda. Kondisi keuangan di Hindia Belanda dianggap telah memerlukan penertiban dan pengaturan sistem pembayaran dalam bentuk lembaga bank. Pada saat yang sama kalangan pengusaha di Batavia, Hindia Belanda, telah mendesak didirikannya lembaga bank guna memenuhi kepentingan bisnis mereka. Meskipun demikian gagasan tersebut baru mulai diwujudkan ketika Raja Willem I menerbitkan Surat Kuasa kepada Komisaris Jenderal Hindia Belanda pada 9 Desember 1826. Surat tersebut memberikan wewenang kepada pemerintah Hindia Belanda untuk membentuk suatu bank berdasarkan wewenang khusus berjangka waktu, atau lazim disebut oktroi.
Dengan surat kuasa tersebut, pemerintah Hindia Belanda mulai mempersiapkan berdirinya DJB. Pada 11 Desember 1827, Komisaris Jenderal Hindia Belanda Leonard Pierre Joseph Burggraaf Du Bus de Gisignies mengeluarkan Surat Keputusan No. 28 tentang oktroi dan ketentuan-ketentuan mengenai DJB. Kemudian pada 24 Januari 1828 dengan Surat Keputusan Komisaris Jenderal Hindia Belanda No. 25 ditetapkan akte pendirian De Javasche Bank (DJB). Pada saat yang sama juga diangkat Mr. C. de Haan sebagai Presiden DJB dan C.J. Smulders sebagai sekretaris DJB.
Oktroi merupakan ketentuan dan pedoman bagi DJB dalam menjalankan usahanya. Oktroi DJB pertama berlaku selama 10 tahun sejak 1 Januari 1828 sampai 31 Desember 1837 dan diperpanjang sampai dengan 31 Maret 1838. Pada periode oktroi keenam, DJB melakukan pembaharuan akte pendiriannya di hadapan notaris Derk Bodde di Jakarta pada 22 Maret 1881. Sesuai dengan akte baru DJB, status bank diubah menjadi Naamlooze Vennootschap (N.V.). Dengan perubahan akte tersebut, DJB dianggap sebagai perusahaan baru. Oktroi kedelapan adalah oktroi DJB terakhir hingga berlakunya DJB Wet pada 1922. Pada periode oktroi terakhir ini, DJB banyak mengeluarkan ketentuan baru dalam bidang sistem pembayaran yang mengarah kepada perbaikan bagi lalu lintas pembayaran di Hindia Belanda. Oktroi kedelapan berakhir hingga 31 Maret 1921 dan hanya diperpanjang selama satu tahun sampai dengan 31 Maret 1922.
Bagian Empat : DJB Berdasarkan DJB Wet
Pada 31 Maret 1922 diundangkan De Javasche Bankwet 1922 (DJB Wet). Bankwet 1922 ini kemudian diubah dan ditambah dengan UU tanggal 30 April 1927 serta UU 13 November 1930. Pada dasarnya De Javasche Bankwet 1922 adalah perpanjangan dari oktroi kedelapan DJB yang berlaku sebelumnya. Masa berlaku Bankwet 1922 adalah 15 tahun ditambah dengan perpanjangan otomatis satu tahun, selama tidak ada pembatalan oleh gubernur jenderal atau pihak direksi. Pimpinan DJB pada periode DJB Wet adalah direksi yang terdiri dari seorang presiden dan sekurang-kurangnya dua direktur, satu di antaranya adalah sekretaris. Selain itu terdapat jabatan presiden pengganti I, presiden pengganti II, direktur pengganti I, dan direktur pengganti II. Penetapan jumlah direktur ditentukan oleh rapat bersama antara direksi dan dewan komisaris. Pada periode ini DJB terdiri atas tujuh bagian, di antaranya bagian ekonomi statistik, sekretaris, bagian wesel, bagian produksi, dan bagian efek-efek.
Pada periode ini DJB berkembang pesat dengan 16 kantor cabang, antara lain: Bandung, Cirebon, Semarang, Yogyakarta, Surakarta, Surabaya, Malang, Kediri, Kutaraja, Medan, Padang, Palembang, Banjarmasin, Pontianak, Makassar, dan Manado, serta kantor perwakilan di Amsterdam, dan New York. DJB Wet ini terus berlaku sebagai landasan operasional DJB hingga lahirnya Undang-undang Pokok Bank Indonesia 1 Juli 1953.
Bagian Lima : DJB pada Masa Pendudukan Jepang (1942-1945)
Pecahnya Perang Dunia II di Eropa terus menjalar hingga ke wilayah Asia Pasifik. Militer Jepang segera melebarkan wilayah invasinya dari daratan Asia menuju Asia Tenggara. Menjelang kedatangan Jepang di Pulau Jawa, Presiden DJB, Dr. G.G. van Buttingha Wichers, berhasil memindahkan semua cadangan emasnya ke Australia dan Afrika Selatan. Pemindahan tersebut dilakukan lewat pelabuhan Cilacap. Setelah menduduki Pulau Jawa pada bulan Februari-Maret 1942, tentara Jepang memaksa penyerahan seluruh aset bank kepada mereka. Selanjutnya, pada bulan April 1942, diumumkan suatu banking-moratorium tentang adanya penangguhan pembayaran kewajiban-kewajiban bank. Beberapa bulan kemudian, pimpinan tentara Jepang untuk Pulau Jawa, yang berada di Jakarta, mengeluarkan ordonansi berupa perintah likuidasi untuk seluruh bank Belanda, Inggris, dan beberapa bank Cina. Ordonansi serupa juga dikeluarkan oleh komando militer Jepang di Singapura untuk bank-bank di Sumatera, sedangkan kewenangan likuidasi bank-bank di Kalimantan dan Great East diberikan kepada Navy Ministry di Tokyo.
Fungsi dan tugas bank-bank yang dilikuidasi tersebut, kemudian diambil alih oleh bank-bank Jepang, seperti Yokohama Specie Bank, Taiwan Bank, dan Mitsui Bank, yang pernah ada sebelumnya dan ditutup oleh Belanda ketika mulai pecah perang. Sebagai bank sirkulasi di Pulau Jawa, dibentuklah Nanpo Kaihatsu Ginko yang melanjutkan tugas tentara pendudukan Jepang dalam mengedarkan invansion money yang dicetak di Jepang dalam tujuh denominasi, mulai dari satu hingga sepuluh gulden. Sampai pertengahan bulan Agustus 1945, telah diedarkan invansion money senilai 2,4 milyar gulden di Pulau Jawa, 1,4 milyar gulden di Sumatera, serta dalam nilai yang lebih kecil di Kalimantan dan Sulawesi. Sejak tanggal 15 Agustus 1945, juga masuk dalam peredaran senilai 2 milyar gulden, yang sebagian berasal dari uang yang ditarik dari bank-bank Jepang di Sumatera serta sebagian lagi dicuri dari De Javasche Bank Surabaya dan beberapa tempat lainnya. Hingga bulan Maret 1946, jumlah uang yang beredar di wilayah Hindia Belanda berjumlah sekitar delapan milyar gulden. Hal tersebut menimbulkan hancurnya nilai mata uang dan memperberat beban ekonomi wilayah Hindia Belanda.
Bagian Enam : DJB Masa Revolusi
Setelah Jepang menyerah pada 15 Agustus 1945, Indonesia segera memproklamasikan kemerdekaannya pada 17 Agustus 1945. Keesokan harinya, pada 18 Agustus 1945 telah disusun Undang-Undang Dasar 1945. Dalam penjelasan UUD 1945 Bab VIII pasal 23 Hal Keuangan yang menyatakan cita-cita membentuk bank sentral dengan nama Bank Indonesia untuk memperkuat adanya kesatuan wilayah dan kesatuan ekonomi-moneter. Sementara itu dengan membonceng tentara Sekutu, Belanda kembali mencoba menduduki wilayah yang pernah dijajahnya. Maka dalam wilayah Indonesia terdapat dua pemerintahan yaitu: pemerintahan Republik Indonesia dan pemerintahan Belanda atau Nederlandsche Indische Civil Administrative (NICA). Selanjutnya NICA membuka akses kantor-kantor pusat Bank Jepang di Jakarta dan menugaskan DJB menjadi bank sirkulasi mengambil alih peran Nanpo Kaihatsu Ginko. Tidak lama kemudian DJB berhasil membuka sembilan cabangnya di wilayah-wilayah yang dikuasai oleh NICA. Pembukaan cabang-cabang DJB terus berlanjut seiring dengan dua agresi militer yang dilancarkan Belanda kepada Indonesia. Sementara itu di wilayah yang dikuasai oleh Republik Indonesia, dibentuk Jajasan Poesat Bank Indonesia (Yayasan Bank Indonesia) yang kemudian melebur dalam Bank Negara Indonesia sebagai bank sirkulasi berdasarkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang No.2/1946. Namun demikian situasi perang kemerdekaan dan terbatasnya pengakuan dunia sangat menghambat peran BNI sebagai bank sirkulasi. Namun demikian pada 30 Oktober 1946, pemerintah dapat menerbitkan Oeang Repoeblik Indonesia (ORI) sebagai uang pertama Republik Indonesia. Periode ini ditutup dengan Konferensi Meja Bundar (KMB) 1949 yang memutuskan DJB sebagai bank sirkulasi untuk Republik Indonesia Serikat (RIS) dan Bank Negara Indonesia sebagai bank pembangunan.
Bagian Tujuh : Periode Pengakuan Kedaulatan RI s.d. Nasionalisasi DJB
Pada Desember 1949, Belanda mengakui kedaulatan Republik Indonesia sebagai bagian dari Republik Indonesia Serikat (RIS). Pada saat itu, sesuai dengan keputusan Konferensi Meja Bundar (KMB), fungsi bank sentral tetap dipercayakan kepada De Javasche Bank (DJB). Pemerintahan RIS tidak berlangsung lama, karena pada tanggal 17 Agustus 1950, pemerintah RIS dibubarkan dan Indonesia kembali ke bentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Pada saat itu, kedudukan DJB tetap sebagai bank sirkulasi. Berakhirnya kesepakatan KMB ternyata telah mengobarkan semangat kebangsaan yang terwujud melalui gerakan nasionalisasi perekonomian Indonesia. Nasionalisasi pertama dilaksanakan terhadap DJB sebagai bank sirkulasi yang mempunyai peranan penting dalam menggerakkan roda perekonomian Indonesia. Sejak berlakunya Undang-undang Pokok Bank Indonesia pada tanggal 1 Juli 1953, bangsa Indonesia telah memiliki sebuah lembaga bank sentral dengan nama Bank Indonesia.
Sebelum berdirinya Bank Indonesia, kebijakan moneter, perbankan, dan sistem pembayaran berada di tangan pemerintah. Dengan menanggung beban berat perekonomian negara pasca perang, kebijakan moneter Indonesia ditekankan pada peningkatan posisi cadangan devisa dan menahan laju inflasi. Sementara itu, pada periode ini, pemerintah terus berusaha memperkuat sistem perbankan Indonesia melalui pendirian bank-bank baru. Sebagai bank sirkulasi, DJB turut berperan aktif dalam mengembangkan sistem perbankan nasional terutama dalam penyediaan dana kegiatan perbankan. Banyaknya jenis mata uang yang beredar memaksa pemerintah melakukan penyeragaman mata uang. Maka, meski hanya untuk waktu yang singkat, pemerintah mengeluarkan uang kertas RIS yang menggantikan Oeang Republik Indonesia dan berbagai jenis uang lainnya. Akhirnya, setelah sekian lama berlaku sebagai acuan hukum pengedaran uang di Indonesia, Indische Muntwet 1912 diganti dengan aturan baru yang dikenal dengan Undang-undang Mata Uang 1951.
Bagian Delapan : Presiden De Javasche Bank (1828 - 1953)
Mr. C. de Haan
Masa Jabatan : 1828 - 1838


C. J. Smulders
Masa Jabatan : 1838 - 1851


E. Francis
Masa Jabatan : 1851 - 1863


C. F. W. Wiggers van Kerchem
Masa Jabatan : 1863 - 1868


J. W. C. Diepenheim
Masa Jabatan : 1868 - 1870


Mr. F. Alting Mees
Masa Jabatan : 1870 - 1873


Mr. N. P. van den Berg
Masa Jabatan : 1873 - 1889


S. B. Zeverijn
Masa Jabatan : 1889 - 1893


D. Groeneveld
Masa Jabatan : 1893 - 1898


J. Reijsenbach
Masa Jabatan : 1899 - 1906


Mr. G. Vissering
Masa Jabatan : 1906 - 1912


E. A. Zeilinga Azn.
Masa Jabatan : 1912 - 1924


Mr. L. J. A. Trip
Masa Jabatan : 1924 - 1929

Mr. Dr. G. G. van Buttingha Wichers
Masa Jabatan : 1929 - 1945


Dr. R. E. Smits
Masa Jabatan : 1946 - 1949


Dr. A. Houwink
Masa Jabatan : 1949 - 1951

Mr. Sjafruddin Prawiranegara
Masa Jabatan : 1951 – 1953

SUMBER : https://www.bi.go.id/




DOWNLOAD BSE 2013 Sejarah Indonesia (Buku Guru) SMA MA SMK MAK KELAS X

DOWNLOAD BSE 2013 Sejarah Indonesia (Buku Guru) SMA MA SMK MAK KELAS X
DOWNLOAD BSE 2013 Sejarah Indonesia (Buku Guru) SMA MA SMK MAK KELAS X
Gratis langsung download dengan cepat buku BSE kurikulum 2013 tanpa login,  DOWNLOAD BSE 2013 Sejarah Indonesia (Buku Guru) SMA MA SMK MAK KELAS X silahkan untuk di DOWNLOAD.

DOWNLOAD BSE 2013 Sejarah Indonesia (Buku Siswa) SMA MA SMK MAK KELAS XI SEMESTER 1

DOWNLOAD BSE 2013 Sejarah Indonesia (Buku Siswa) SMA MA SMK MAK KELAS XI SEMESTER 1
DOWNLOAD BSE 2013 Sejarah Indonesia (Buku Siswa) SMA MA SMK MAK KELAS XI SEMESTER 1
Gratis langsung download dengan cepat buku BSE kurikulum 2013 tanpa login,  DOWNLOAD BSE 2013 Sejarah Indonesia (Buku Siswa) SMA MA SMK MAK KELAS XI SEMESTER 1 silahkan untuk di DOWNLOAD.

DOWNLOAD BSE 2013 Sejarah Indonesia (Buku Guru) SMA MA SMK MAK KELAS XI

DOWNLOAD BSE 2013 Sejarah Indonesia (Buku Guru) SMA MA SMK MAK KELAS XI


Gratis langsung download dengan cepat buku BSE kurikulum 2013 tanpa login,  DOWNLOAD BSE 2013 Sejarah Indonesia (Buku Guru) SMA MA SMK MAK KELAS XI silahkan untuk di DOWNLOAD.

Latihan soal UKK Kelas X SMA Kurikulum 2013 Pelajaran Sejarah

Latihan soal UKK Kelas X SMA Kurikulum 2013 Pelajaran Sejarah 
1. Mengapa Sangiran disebut sebagai laboratorium situs manusia purba di Asia?
    a. G.H.R von Koeningswald menemukan artefak litik di wilayah Ngebung
    b. Mendapat pengakuan sebagai Warisan Dunia pada 1996 oleh UNESCO
    c. Ditemukannya fosil Homo erectus, dan Pithecanthropus erectus
    d. Sangiran merupakan suatu kompleks situs manusia purba yang terlengkap
    e. Situs Sangiran merupakan suatu kubah raksasa yang berupa cekungan besar

2. Pada tahun 2004 terjadi hal yang menggemparkan dunia ilmu pengetahuan dengan ditemukannya manusia purba di Flores. Mengapa?
    a. B. D. van Rietschoten telah menemukan manusia Wajak
    d. von Koeningswald menemukan manusia berukuran kerdil dari Liang Bua
    c. Peneliti dari Indonesia dan Australia menemukan Homo florensiensis
    d. Telah ditemukan Homo floresiensi di pegunungan karst di barat laut Campurdarat
    e. Th. Vervohen menemukan beberapa fragmen tulang manusia pada 1965 di Liang Bua

3. Menurut G. Coedes, yang memotivasi para pedagang India untuk datang ke Asia Tenggara adalah keinginan untuk memperoleh barang tambang terutama emas dan hasil hutan. Teori yang yang sejalan dengan pendapat G. Coedes adalah ….
    a. Teori Ksatria yang dikemukakan oleh R.C Majundar
    b. Teori Brahmana yang dikemukakan oleh N.J. Krom
    c. Teori Arus Baik yang dikemukakan oleh F.D.K. Bosch
    d. Teori Brahmanna yang dikemukakan oleh J. C. van Leur
    e. Teori Waisya yang dikemukakan oleh N.J. Krom

4. Mulawarman adalah raja termahsyur dari Kerajaan Kutai yang kepemimpinannya patut diteladani hingga saat ini. Mengapa demikian?
    a. Mulawarman adalah raja yang tegas dan taat terhadap peraturan
    b. Mulawarman mengeluarkan tugu peringatan (yupa) dari upacara kurban
    c. Mulawarman menghadiahkan 20.000 ekor lembu kepada para brahmana
    d. Mulawarman adalah keturunan dari penguasa lokal yang terkena pengaruh Hindu-Buddha
    e. Mulawarman adalah raja yang membawa Kutai pada puncak zaman keemasan.

5. Dalam catatan perjalanan I-tsing, Kerajaan Sriwijaya dikatakan menjadi pusat pembelajaran agama Buddha Mahayana di seluruh wilayah Asia Tenggara dan telah membangun jaringan pembelajaran agama Buddha hingga India. Bukti dari catatan I-tsing yang masih terlihat hingga saat ini adalah ….
    a. adanya prasasti Nalanda di Universitas Nawa Nalanda di India
    b. pernyataan Mohammad Yamin yang menyebut Sriwijaya sebagai negara nasional pertama
    c. dibangunnya sebuah pangkalan di daerah Ligor
    d. Prasasti Kedukan Bukit yang menerangkan bahwa Dapunta Hyang telah mengadakan perjalanan suci
    e. pembangunan sebuah taman yang disebut Sriksetra

6. Anthony H. Johns mengatakan bahwa proses Islamisasi dilakukan oleh para musafir dari Mekkah yang datang ke Kepulauan Indonesia. Teori serupa juga diungkapkan oleh ….
    a. Hoesein Djajadiningrat yang mengatakan bahwa Islam berasal dari tanah kelahirannya
    b. C. Snouck Hurgronye yang didasarkan pada batu nisan Sultan Malik Al- Saleh
    c. Buya Hamka (Haji Abdul Malik Karim Amrullah) yang mengatakan bahwa Islam masuk sejak abad ke-7 M
    d. J.P. Moquetta yang didasarkan pada batu nisan di Pasai dan makam Maulana Malik Ibrahim yang wafat tahun 1419 di Gresik
    e. Hoesein Djajadiningrat yang didasarkan pada tradisi tabot di Pariaman

7. Jika diperhatikan seni ukir telah ada di Kepulauan Indonesia sejak lama tetapi masuknya pengaruh Islam telah membawa pengaruh besar dalam perkembangan seni ukir. Mengapa demikian?
    a. Perkembangan Islam di zaman madya memperbolehkan untuk melukis makhluk hidup
    b. Pada zaman Islam madya para seniman mengembangkan seni ukir dengan motif daun-daunan dan bunga-bungaan
    c. Para seniman membuat perkumpulan seniman kaligrafi
    d. Munculnya kreasi baru dengan menyamarkan lukisan makhluk hidup dan menambahkan huruf Arab
    e. Pada masa sesudah zaman madya para seniman tidak leluasa mengembangkan kreasinya

8. Bukti bahwa toleransi beragama di Kerajaan Singhasari berjalan sangat baik adalah ….
    a. jenazah Kertanegara yang dicandikan di Candi Jawi dan Candi Singosari
    b. tertulis dalam kitab Pararaton
    c. terjadi sinkretisme antara agama Hindu dan Buddha menjadi bentuk Syiwa- Buddha
    d. perkawinan antara Raja Jayasingawarman dengan saudara perempuan Kertanegara
    e. dibangunnya sebuah benteng di Canggu Lor

9. Selama periode Hindu-Buddha telah terbentuk kekuatan besar Nusantara yang memiliki kekuatan integrasi secara politik terutama jika dihubungkan dengan kebesaran Kerajaan Sriwijaya, Singhasari dan Majapahit. Maksud dari kekuatan integrasi politik adalah ....
    a. kemampuan kerajaan tradisional dalam menguasai wilayah yang luas dan menempatkan kekuasaannya dalam kesatuan politik
    b. pernyataan dari Mohammad Yamin yang mengatakan bahwa ketiganya merupakan suatu bentuk negara nasional
    c. kemampuan kerajaan tradisional untuk melakukan perundingan politik dengan kerajaan lain di luar Kepulauan Indonesia
    d. ketiga kerajaan tersebut mempunyai ikatan kerjasama politik yang baik
    e. kemampuan untuk mengontrol kerajaan-kerajaan kecil dan bisa melindungi kepentingan mereka

10. Salah satu bentuk akulturasi antara budaya Indonesia dengan budaya India pada bentuk bangunan candi terlihat dari ....
    a. relief yang dilukiskan pada candi
    b. arca atau patung yang terdapat di candi
    c. bentuk stupa
    d. bentuk candi yang berupa punden berundak
    e. hiasan yang terdapat pada candi

11. Setelah Malaka jatuh ke tangan Portugis tahun 1911, terjadi perubahan jalur perdagangan laut. Dampak dari perubahan tersebut adalah ....
    a. kedatangan pedagang dari Bengal, Turki, Arab, Persia, Gujarat, dan Siam di Aceh
    b. munculnya jalur alternatif dengan melintasi pantai barat Sumatra ke Selat Sunda
    c. munculnya jalur alternatif dengan melintasi pantai timur Sumatra ke Selat Sunda
    d. munculnya pelabuhan perantara baru di Celebes dan Borneo
    e. terjadi peningkatan hubungan dagang dengan bangsa Barat

12. Pada masa kekuasaan Sultan Agung, Kerajaan Mataram mengalami masa keemasan terutama dalam bidang budaya. Sultan Agung disebut sebagai seorang budayawan, karena ....
    a. Sultan Agung memadukan unsur-unsur budaya Islam dengan budaya Hindu-Buddha
    b. Sultan Agung adalah seorang panatagama
    c. Sultan Agung menyelenggarakan perayaan sekaten untuk memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW
    d. Sultan Agung memadukan unsur-unsur budaya lokal dengan budaya Barat
    e. Sultan Agung menerapkan kehidupan masyarakat yang bersifat feodal

13. Sultan Ageng Tirtayasa adalah sosok raja yang dapat membawa Kerajaan Banten mengalami kemajuan. Nilai karakter apa yang menonjol dari Sultan Ageng Tirtayasa?
    a. Toleransi beragama d. Anti kekuasaan asing
    b. Sifat welas asih e. Rela berkorban
    c. Kedermawanan yang tinggi

14. Berdasarkan bukti sejarah, Islam sudah masuk ke Papua pada pertengahan abad ke-15. Teori yang mengatakan proses Islamisasi di Papua terutama di pesisir barat disebarkan oleh ....
    a. teori yang mengatakan Islam datang disebarkan oleh mubaligh asal Aceh
    b. teori yang mengatakan Islam mulai diperkenalkan oleh Syarif Muaz al- Qathan
    c. teori yang mengatakan bahwa Islam dikembangkan oleh pedagangpedagang Bugis
    d. teori yang mengatakan Islam di Papua berasal dari Bacan
    e. teori yang mengatakan bahwa Islam di Papua berasal dari Maluku

15. Ancaman disintegrasi dan perpecahan akan menyebabkan sebuah negara mengalami kehancuran seperti yang menjadi salah satu penyebab kemunduran Kerajaan Majapahit yaitu ....
    a. Perang Paregrek
    b. semakin meluasnya pengaruh Islam
    c. Perang Bubat
    d. wafatnya Gajah Mada
    e. terjadinya bencana alam

sumber : disini